PASIM Sukabumi, Menurut rencana akan membuka Politeknik dan Laboratorium Penelitian khusus pertanian. Adapun yang menjadi alasan dan pertimbangan serta kebijakan tersebut, seperti dijelaskan Ketua PASIM Sukabumi, Dr. M. Fajar Laksana, S.E., CQM., M.M., karena lahan pertanian di Sukabumi cukup luas, namun belum tergarap secara optimal.
Ditandaskannya, biar bagaimanapun, perkembangan ekonomi di suatu daerah, apabila tidak didukung dengan sektor produksi, akan berdampak terhadap arah pembangunan yang semu. Karena pembangunan yang terjadi saat ini, mengarah pada pembangunan yang materialistis. Untuk itu, visi dan misi Kota Sukabumi bila perlu ditambah, dengan menjadi kota wisata dan budaya, serta lebih fokus pada sektor pertanian.
Dalam pada itu, salah seorang Pakar Ekonomi, sekaligus sebagai Mantan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura RI, Profesor Doktor Insinyur A.M. Saefuddin menjelaskan, secara geografis, wilayah Sukabumi sebagai daerah agraris, serta memiliki banyak lahan kosong yang belum tergarap secara optimal. Padahal apabila dikelola dengan optimal, lahan tersebut bisa menjadi produktif, dengan ditanami berbagai jenis tanaman palawija, padi, sayur mayur dan sebagainya, yang bisa meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan warga masyarakat. Namun kondisi yang terjadi saat ini, di Sukabumi banyak lahan kosong yang sudah beralih fungsi menjadi kawasan industri, dengan berdirinya pabrik-pabrik.
Mantan Menteri Negara Pangan dan Hortikultura RI mengungkapkan, pengelolaan pertanian di suatu daerah, akan berjalan optimal apabila kepala daerah, baik Bupati maupun Walikota, mengeluarkan kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Daerah atau Perda, yang isinya fokus pada pengembangan sektor pertanian.
Ditandaskannya, apabila seorang kepala daerah tidak memiliki kebijakan terhadap sektor pertanian, seluruh lahan pertanian yang ada di daerahnya, lambat laun akan berubah dan beralih fungsi menjadi kawasan industri, dengan berdirinya pabrik-pabrik besar. Ditandaskan pula, apabila hal tersebut terjadi, untuk memenuhi kebutuhan pangan warga masyarakatnya, terpaksa harus mencari dan medatangkannya dari daerah lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *