Seminar Nasional Sejarah Prabu Siliwangi

Seminar Nasional Sejarah Prabu Siliwangi

News, Uncategorized

Seminar Nasional Prabu Siliwangi dan pengajuan kembali KH. Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional

Seminanar Nasional teentang sejarah ini berlangsung di Gd. Juang 45 Kota Sukabumim Jl. Veteran II Kota Sukabumi, sebelum acara dimulai ada pertunjukan yang di pertunjukan dari IPSI kota Sukabumi dan Pesantren Dzikir Al-Fath Sukabumi yaitu Pencak Silat, permainan Boles dan permainan yang baru saja di kmukakan yaitu permainan œNgagogotong Lisung  yang pada akhirnya mendapat apressiasi dari hadrin.

Kemudian Acara dilanjutkan dengan pembukaan yaitu sambutan dari bapak Wakil Wali Kota Sukabumi Bapak. DR. H. Mulyono dalam pembukaan nya beliau menuturkan bahwa ternyata kota sukabumi juga memiliki sejarah dan wajib dilestarikan. dan mengenai Pengusulan KH. Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional juga beliau menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah yang senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa pahlawannya. Atas perjuangan dan pengorbanan mereka, bangsa Indonesia dapat menikmati kemerdekaan hingga saat ini. Wakil walikota juga menyampaikan ucapan terima kasih atas nama pemerintah dan masyarakat Kota Sukabumi, kepada semua pihak atas usulan menjadikan tokoh Sukabumi sebagai pahlawan nasional.

kemudian pembacaan do™a oleh Sekretaris MUI Kota Sukabumi. Bapak . Ade Juanda, S.Ag, M.Ag,

Seminarpun dimulai dengan menghadirkan 4 Pakar dari,  Balai Arkeolog diantaranya Prof. DR. Hj. Nina Herlina Lubis. M.S (Guru Besar UNPAD), Bapak DR. Mumuh Muhsin M.Hum, Bapak Drs. Undang Amhad Darsa M.Hum (filolog : Orang yang mampu menerjemahkan tulisan dan naskah kuno) dan Bapak Lutfi Yondri (Pakar dari Balai Arkeologi Bandung).

Seminar dimulai dengan pemaparan Prof. DR Hj. Nina Herlina Lubis M.S tentang jasa-jasa dari KH. Akhmad Sanusi beliau menegaskan bahwa pada tahun 2011 kemarin Presiden hanya tinggal menandatangani menyetujui bahwa KH. Ahmad Sanusi sebagai Pahlawan Nasional namun didahului oleh Mr. Sjarifudin Prawiranegara yang menurut beliau telah sering di seminarkan, maka didahulukan, dengan antusiasme warga sukabumi menjadikan KH. Ahmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional maka itu tidak mungkin tidak terjadi

pemaparan pak lutfi mengenai perbedaan antara Mitos, Dongeng, dan Legenda, kata beliau Mitos disimpulkan adalah cerita yang para dewa “ dewa yang terjadi pada masa lampau yang terjadi di dunia supranatural dan dianggap benar-benar terjadi, Dongeng disimpulkan sebagai Cerita rakyat pemerannya berupa hewan dan manusia waktu terjadinya bisa kapanpun tidak terlalu diketahui secara rinci, dan Legenda disimpulkan sebagai pemerannya adalah manusia dan waktu terjadinya di ketahui dengan jelas.

dilanjutkan Bapak. Drs. Undang Ahmad Darsa, beliau memaparkan tentang tulisan-tulisan naskah kuno serta prasasti yang merujuk atau berkaitan dengan keberadaan prabu iliwangi dan memaparkan bahwa œSiliwangi adalah gelar yang diberikan oleh orang lain tidak mungkin oleh dirinya sendiri.

kemudian pembicara yang ketiga yaitu Bapak. DR. Mumuh Muhsin, M. Hum beliau menarik kesimpulan dari pemaparan-pemaparan para pakar di atas pemaparan nya diantaranya adalah :

  1. Bahwa Prabu Siliwangi itu ada dan bukan mitos
  2. 95% Bukti-bukti yang ada merujuk kepada siapakah prabu siliwangi itu ? dan œSri Baduga Maharaja yang diduga kuat sebagai Prabu Siliwangi

begitulah sebagian pemaparan yang di paparkan oleh DR. Mumuh Muhsin, M.Hum. kemudian seminar dilanjutkan ke pertanyaan pertanyaan diskusi. Pertanyaan diskusi pun hanya pertanyaan mengenai keberadaan prabu siliwangi, perbedaan pendapat serta sanggahan, pernyataan yang menggugah perhatian adalah ketika seorang penanya mengajukan pertanyaan bahwa jaman sekarang adalah jaman yang bokbrok dan ingin kembali ke masa kekuasaan prabu siliwangi, tidak ada nya korupsi mau dll. sontak mendapat perhatian dari seluruh audiens dengan tepuk tangan yang meriah.

Setelah istirahat maka dilanjutkan dengan sesi kedua dengan pembicara Bapak . DR. cd. Muhammad Fajar Laksana, SE., CQM., MM. (Pimpinan MUSIS Kota Sukabumi), Prof. DR. Hasan Djafar (Pakar UI : Orang yang melakukan perbaikan candi borobudur) dan Dra. Elis Suryani, NS., M.Hum. (UNPAD) dan Prof DR. Hj. Nina Herlina Lubis Sebagai Moderator.

Dimulai dengan penjelasan pakar Arkeologi dri UI Prof. DR. Hasan Jafar dalam presentasinya beliau menjelaskan beberapa parasasti yang dtemukan kemudian menjadi acuan diduga kuat peninggalan prabu siliwangi. dilanjutkan oleh DR. (cd). Muhammad Fajar Laksana, SE., CQM.,MM sebagai keturunan ke-17 Prabu siliwangi menjelaskan tentang isi dari kitab suwasit yang merupakan salah satu acuan tentang sejarah prabu siliwangi KITAB SUWASIT SEBAGAI HISTOTIOGRAPHY TRADISI ADA 22 INTI SARI SEJARAH PRABU SILIWANGI :

Bagian 1 Nasab Keluarga Prabu Sliliwangi
Bagian 2 Prabu Angga Rarang Raja Kerajaan Gajah
Bagian 3 Pangeran Pamanah Rasa Abad 15 Mejadi Raja Di Kerajaan Gajah
Bagian 4 Pangeran Pamanah Rasa Berkelana, Menaklukkan Macan Putih
Bagian 5 Pangeran Pamanah Rasa Bertemu Ki Dampu Awang
Bagian 6 Pangeran Pamanah Rasa Membuktikan Raja Kepada Ki Dampu Awang
Bagian 7 Pangeran Pamanah Rasa Menikah Dengan Nyai Aci Putih
Bagian 8 Pangeran Pamanah Rasa Kembali Ke Kerajaan Perang Dengan Mongol Pati
Bagian 9 Mengganti Nama Kerajaaan Gajah Menjadi Pakuan Pejajaran Dan Membuat Simbol Senjata Kujang Yang Pertama
Bagian 10 Kerajaan Pajajaran Menyerang Kerajaan Galuh
Bagian 11 Raja Galuh Meninggal
Bagian 12 Pangeran Pamanah Rasa Mendapat Wasiat Dari Ayahnya Harus Menaklukan Syekh Quro
Bagian 13 Pangeran Pamanah Rasa Ke Sumedang Bertemu Pangeran Jaga Raksa
Bagian 14 Pangeran Pamanah Rasa Berganti Nama Menjadi Pangeran Pamanah Sari
Bagian 15 Pangeran Pamanah Sari Di Cirebon Bertemu Ki Dampu Awang
Bagian 16 Pangeran Pamanah Sari Bertemu Ki Gendeng Tapa
Bagian 17 Pangeran Pamanah Sari / Prabu Siliwangi Masuk Islam Oleh Syekh Quro
Bagian 18 Pangeran Pamanah Sari Berangkat Ke Haji
Bagian 19 Pangeran Pamanah Sari Menikah Dengan Nyi Subang Larang
Bagian 20 Pangeran Pamanah Sari Menikah Dengan Nyi Kasih
Bagian 21 Pangeran Pamanah Sari Menjadi Penguasa Cirebon Di Berikan Gelar Prabu Siliwangi
Bagian 22 Prabu Siliwangi Menghilangkan Kerajaan Pajajaran Pindah Ke Alam

cerita singkatnya adalah

Dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).

Mengenai nama Siliwangi, dijelaskan bahwa nama tersebut adalah gelar setelah Pangeran Pamanah Rasa masuk Islam sebagai salah satu syarat mempersunting murid Syaikh Quro, yakni Nyi Ratu Subanglarang. Dari isteri ketiga ini, kemudian melahirkan Kian Santang yang bergelar Pangeran Cakrabuana di Cirebon dan Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati.

Bersamaan dengan luasnya wilayah Gajah, kemudian Prabu Siliwangi menciptakan senjata Kujang, berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di tangkainya. Senjata tersebut kemudian menjadi lambang Jawa Barat. Nama kerajaan Gajah pun diganti menjadi kerajaan Pajajaran, karena menjajarkan (menggabung) kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih. Kisah dalam Kitab Suwasit diakhiri dengan mokhsa (menghilang) dan dipindahkannya kerajaan Pajajaran ke alam Gaib bersama Harimau Putih.

kemudian beliau menjelaskan gelar beliau yang mendapat gelar œRADEN ADIPATI. oleh prof Nina di sanggah bahwa pada saat jaman  belanda orang-orang yang melakukan pemberontakan adalah orang-orang yang mendapat gelar keturunan pemerintahan, maka dari itu jaman dahulu gelar tersebut dihilangkan agar suasana lebih kondusif, ada kemungkinan bahwa M. Fajar Laksana sendiri adalah keturunan yang dihilangkan gelar œRaden nya tersebut Presentasi beliau pun mendapat apresiasi dari para peserta seminar.

kemudian ibu Dra. Elis. Suryani, M. Hum mempresentasikan yang ceritanya hampir sama dengan pimpinan MUSIS meskipun tetap ada perbedaannya

kemudian masuk sesi tanya jawab diantaranya penanya yang menanyakan œApa maksud dan tujuan diadakan nya seminar ini, untuk apa kita mengetahui sejarah dan apa gunanya bagi kaum generasi muda? langsung saja di jawab dengan tegas oleh Bapak. DR (dc) Muhammad Fajar Laksana SE. CQM. MM . bahwa kita mempelajari sejarah sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Qomar 54:4-5 yaitu œSejarah adalah hikmah yang sempurna sejarah apa? yaitu sejarah orang yang diberi nikmat oleh Allah sesuai dengn QS. Al-Fatihah 1:4-5 dengan demikian bahwa pak Fajar sendiri menyebutkan prof adalah alhikmah atau œparanormal yaitu orang yang mau mempelajari sejarah dan melihat masa depan dari sejarah .

Acara ditutup dengan kesimpulan-kesimpulan

  1. Pengajuan Kembali KH. Akhmad Sanusi Sebagai Pahlawan Nasional
  2. Bahwa Prabu Siliwangi adalah Tokoh yang œADA dan bukan mitologi tokoh yang sangat melegenda
  3. Dugaan kuat prabu siliwangi adalah Sri baduga Maharaja dengan 95% bukti menduka ke sana
  4. Mengenai Agama Prabu siliwangi Islam/Hindu belum jelas, karena belum ada fakta primer yang menjelaskan bahwa prabu siliwangi bergama Islam/Hindu
  5. Intropeksi terhadap sikap orang sunda jangan mau dijadikan sebagai mental para penjajah

Beberapa kesimpulan yang disampaikan oleh Prof. DR. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S dalam penutupan acara seminar.

acara seminar pun ditutup oleh Sekretaris Daerah Kota Sukabumi Bapak. M. Muraz yang dengan bangga karena kota sukabumi memiliki museum, namun sebelum museum itu si resmikan kata beliau harus di seminarkan seperi ini, karena untuk membenarkan sumber-sumber nya.

Dialog Peradaban

News, Uncategorized

Dialog peradaban dengan Prof. DR. Martha Catherine Beck (Professor of Phylosophy from Lyon Collage USA) yang berjudul :

Modal Dasar, Grand Design dan Karakter Bangsa Amerika Serikat Menjadi Bangsa Termaju di Dunia”

 

Seminar Sendiri di resmikan oleh bapak wakil walikota Sukabumi Bapak. DR. H. Mulyono, dalam pembbukaan nya beliau begitu antusias membuka seminar tersebut, dalam kutipan pembukaan nya adalah bahwa indonesia adalah negara yang melimpah ruah yang menjadi modal untuk menjadi negara yang maju,  dihadiri oleh Sekretaris MUI Kota Sukabumi Bapak. Ade Juanda, S.Ag. M.Ag , Perkumpulan MAGIZ, Mahasiswa STIE-STMIK PASIM SUKABUMI, Siswa-siswi SMA dan Para mahasiswa dari PT di Sukabumi dan semua santri pesantren dzikir al-fath dan bapak Prof. H. Tajul Arifin, MA yaitu Guru besar UIN SGD bandung yang mendampingi Prof Martha yang di laksanakan di Pesantren Dzikir Al-Fath perumahan Gading Kencana Asri Blok G Kota Sukabumi.

Dalam presentasi nya Martha menyampaikan bahwa Amerika dalam pemerintahannya meemisahkan antara agama dengan pemerintahan ataubisa dikatakan menganut paham sekulerisme, individualisme dan matrelistis. maka karenanya beliau bangga dengan Indonesia yang menganut paham pancasila yang mana dalam point pertama pancasila yaitu #1. Ketuhanan yang maha ESA. sebelum melanjutkan sila selanjutnya Tuhan di tempatkan sebagai naungan di sila-sila berikutnya hal ini sangat berbeda sekali dengan pemikiran orang Amerika, yatu bahwa Agama itu adalah urusan masing-masing tidak ada pendanaan ataupun orgasnisasi agama dari pemerintahnya  Indonesia Bisa besar katanya jika kita bisa mewujudkan pancasila tersebut. Pandangan beliau tentang Islam adalah islam tidak seperti yang digambarkan identik dengan terorisme karena kata belaiau teroris itu bisa saja orang non muslim mau orang dari negara manapun kalau  teroris tetap saja teroris tidak melulu memandang islam identik dengan kekerasan. kemudian beliau juga bangga bagaimana orang indonesia tetap hidup bersama dalam kehidupan yang multikultur, multietnis, dan dengan agama yang berbeda dapat hidup berdampingan inilah modal awal untuk menjadi sebuah negara yang maju dan kuat.

Beliau berbicara mengenai masalah racisme terhadap kaum kulit hitam bahwa meskipun presiden Amerika Serikat pada Saat ini berasal dari bangsa kulit hitam tapi masih saja ada sebagian kelompok yang rasisme terhadap orang kulit putih, diapun menyingkap sebuah rahasia “Presiden Amerika Barack Obama dipilih karena beliau mampu membangkitkan perekonomian yang pada saat itu sedang kolep di Amerika ketimbang dengan Bush”.

Prof. DR. Tajul Arifin , MA, Prof DR Martha Catherine Beck dan Bapak Muhammad Fajar Laksana SE, CQM, MM.. Pemberian Senjata Kujang kepada DR Martha Catherine Beck sebagai hadiah

kesimpulan nya adalah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai bangsanya sendiri begitupun menurut Martha bahwa untuk menjadi negara yang maju harus mencintai negara nya sendiri.